Nasional, Peloporkalimantan – Penguatan pasar keuangan Indonesia dalam sepekan terakhir dinilai menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional. Namun, di tengah membaiknya sentimen investor, Bank Indonesia (BI) tetap diimbau untuk menjaga kredibilitas kebijakan moneter dengan memberikan kepastian arah suku bunga acuan ke depan.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah belum sepenuhnya menghilangkan tantangan eksternal. Indonesia dinilai masih membutuhkan tambahan arus modal asing sekitar 11 miliar dolar AS hingga akhir 2026 untuk menjaga keseimbangan neraca pembayaran dan stabilitas nilai tukar.
Fakhrul memperkirakan Bank Indonesia masih perlu menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2026. Langkah tersebut dinilai krusial untuk menjaga konsistensi dan kredibilitas arah kebijakan moneter yang telah dikomunikasikan bank sentral sebelumnya.
Meski demikian, Fakhrul menegaskan bahwa hal paling utama yang ditunggu pelaku pasar saat ini adalah panduan mengenai puncak siklus pengetatan moneter (expectation guidance). Kejelasan bahwa pengetatan suku bunga telah mendekati akhir akan membantu membentuk ekspektasi pasar yang lebih stabil sekaligus mengurangi tekanan likuiditas sektor keuangan.
Tanpa kepastian tersebut, transmisi kebijakan moneter berisiko terus mendorong kenaikan suku bunga simpanan dan biaya pendanaan perbankan. Sebaliknya, kejelasan sinyal dari BI dapat mempercepat penyesuaian di pasar uang, pasar obligasi, hingga sektor perbankan secara lebih efisien.
Fakhrul menambahkan, keberhasilan kebijakan moneter ke depan tidak hanya diukur dari kemampuan menjaga stabilitas rupiah, tetapi juga keberhasilan mengelola transisi menuju normalisasi likuiditas. Kejelasan arah kebijakan diharapkan mampu membawa pasar kembali netral dan memperkuat kepercayaan investor tanpa mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi.
Sumber : Infopublik.id








