Simposium Indonesia Emas 2045: Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Pengaruhi Kualitas Bangsa

Nasional, Peloporkalimantan – Indonesia saat ini tengah berada dalam pusaran transisi demografi yang ditandai dengan perubahan signifikan pada struktur dan perilaku penduduk. Menghadapi fenomena ini, keterlibatan aktif seorang ayah dalam pengasuhan anak kini bukan lagi sebatas urusan domestik, melainkan telah diangkat menjadi agenda prioritas dalam kebijakan pembangunan keluarga nasional.

Perwakilan Direktorat Kebijakan Strategi Bidang Penyerasian Kebijakan Pengendalian Kuantitas Penduduk Kemendukbangga, Asep Sulaimani, menegaskan bahwa kualitas sebuah keluarga hari ini merupakan cerminan penentu mutu bangsa di masa depan. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam simposium kebijakan pembangunan keluarga dan kependudukan menuju Indonesia Emas 2045 di Jakarta pada Selasa (7/7/2026).

Asep memaparkan bahwa Indonesia mencatatkan penurunan angka kelahiran total (Total Fertility Rate/TFR) yang cukup tajam dari rata-rata lima anak pada tahun 1970-an menjadi 2,13 pada tahun 2025. Tren ini diproyeksikan akan terus menurun hingga menyentuh angka 2,08 pada tahun 2029 mendatang yang memicu rupa-rupa tantangan struktural baru.

Penurunan ini membawa tiga tantangan besar bagi Indonesia, yaitu kecemasan demografi terhadap roda ekonomi, potensi penurunan jumlah penduduk usia muda seperti di Jepang, serta lonjakan populasi lansia. Pada tahun 2045, diperkirakan satu dari lima penduduk Indonesia akan berusia di atas 60 tahun sehingga beban pengasuhan anak tidak bisa lagi dibebankan kepada ibu sendirian.

Kondisi di lapangan menunjukkan sekitar 26,31 persen ayah bekerja lebih dari 50 jam seminggu, yang memicu terjadinya kesenjangan kehadiran dalam tumbuh kembang anak. Menyikapi hal itu, pemerintah didorong untuk mengadaptasi kebijakan baru yang tidak hanya mengukur kuantitas penduduk, melainkan mengutamakan kehadiran emosional ayah dalam pikiran dan masa depan anak.

Guna memperkuat peran tersebut, otoritas terkait mengusulkan integrasi modul pelibatan ayah sejak kelas pranikah hingga pendampingan 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Pemerintah juga mengupayakan perluasan platform edukasi parenting berbasis digital khusus pria, serta mendorong regulasi tempat kerja ramah keluarga melalui penyediaan cuti ayah (paternity leave) dan fleksibilitas kerja.

Sumber : Infopublik.id

Also Read

Bagikan:

Tags

Tinggalkan komentar