Nasional, Peloporkalimantan – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendorong para tenaga pendidik untuk memperkuat penanaman nilai integritas dan kejujuran akademik di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Isu tersebut menjadi fokus utama dalam Kamp Sahabat Teladan Integritas dan Antikorupsi (SATRIA) 2026 yang digelar Direktorat Jejaring Pendidikan (Jardik) KPK di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, pada 8–10 September 2026.
Kegiatan yang diikuti 38 guru dari berbagai daerah ini menyoroti pergeseran tantangan di ruang kelas, di mana kemudahan aplikasi digital dan AI berpotensi memicu siswa mengambil jalan pintas dalam menyelesaikan tugas. Para pendidik menekankan pentingnya membimbing siswa agar memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab tanpa mengesampingkan pemahaman proses berpikir, daya kritis, serta prinsip kejujuran terhadap karya sendiri.
Ketua KPK, Setyo Budiyanto, menegaskan bahwa posisi guru sangat strategis dalam memperluas jangkauan pendidikan antikorupsi hingga ke tingkat tapak. Mengingat keterbatasan struktur perwakilan KPK di daerah, para guru difungsikan sebagai perpanjangan tangan institusi guna menggerakkan serta membumikan nilai-nilai integritas di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat luas.
Melalui program SATRIA, KPK berharap para peserta tidak sekadar menyerap materi pelatihan, tetapi juga aktif menginisiasi praktik baik pendidikan antikorupsi di wilayah masing-masing. Penanaman kebiasaan sederhana seperti menghargai proses belajar dan menolak plagiarisme berbasis teknologi diproyeksikan menjadi langkah awal dalam membangun budaya antikorupsi yang kokoh sejak dini.








