Nasional, Peloporkalimantan – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap lonjakan polusi udara akibat fenomena El Nino intensitas kuat yang memuncak pada September hingga November 2026. Berkurangnya curah hujan secara drastis menyebabkan proses pembersihan polutan secara alami di atmosfer (washout) berlangsung jauh lebih lambat.
Ketua Tim Informasi Pencemaran Udara BMKG, Dwi Atmoko, menjelaskan bahwa El Nino dipicu oleh menghangatnya suhu permukaan laut di Pasifik Tengah dan Timur yang berdampak pada mendinginnya perairan Indonesia. Kondisi ini menekan pertumbuhan awan hujan serta memicu kekeringan berkepanjangan di berbagai daerah pada Sabtu (29/8/2026).
Indikator anomali suhu muka laut BMKG pada Agustus 2026 mencatatkan angka 2,26 yang menandakan kategori El Nino sangat kuat. Hambatan pembentukan awan ini diperparah oleh maraknya titik panas (hotspot) dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seperti di Kalimantan, yang mendorong konsentrasi partikel PM2.5 ke level tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Dampaknya tidak hanya terbatas pada masalah kualitas udara dan pernapasan, tetapi juga berpotensi mengganggu sektor pertanian, ketersediaan air baku masyarakat, serta pasokan listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). BMKG memprediksi dampak fenomena ini masih akan berlanjut dan dirasakan hingga awal tahun 2027 meskipun intensitasnya perlahan mulai melemah.
Masyarakat diimbau untuk terus memantau pembaruan informasi iklim dan indeks kualitas udara melalui kanal resmi BMKG, seperti aplikasi Info BMKG maupun situs resmi pemerintah. Langkah mitigasi mandiri dan penghematan penggunaan air perlu diterapkan guna meminimalkan dampak buruk kekeringan dan polusi udara.
Sumber : Infopublik.id








