Peta Risiko Pasar Keuangan Berubah, Ekonom Imbau Investor Cermati Arus Modal Asing dan Yield US Treasury

Nasional, Peloporkalimantan – Sikap hawkish Federal Reserve (The Fed) dalam pertemuan Jackson Hole mengubah peta risiko pasar keuangan Indonesia. Kenaikan ekspektasi suku bunga Amerika Serikat (AS) memicu potensi penguatan dolar AS yang membayangi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, pada Senin (31/8/2026).

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, mengungkapkan bahwa transmisi sentimen global ini diproyeksikan bakal paling terasa di pasar valuta asing. Kendati demikian, ia menilai dampaknya terhadap Surat Utang Negara (SUN) belum tentu sebesar tekanan pada pasar valuta asing karena adanya perbedaan dinamika pada kurva yield US Treasury tenor pendek dan panjang.

Kondisi tersebut tak lepas dari langkah Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, yang memperbesar operasi buyback US Treasury tenor panjang. Langkah ini dinilai efektif membatasi lonjakan imbal hasil jangka panjang, sehingga spread dan carry SUN Indonesia tetap menarik bagi investor asing di tengah meleburnya defisit transaksi berjalan nasional pada kuartal II-2026.

Lebih lanjut, Fakhrul menekankan pentingnya membaca kondisi finansial tidak hanya dari suku bunga acuan (price of money), melainkan juga dari pergerakan arus dana (flow of money). Kebijakan moneter domestik pun kini turut dipengaruhi instrumen pendukung seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hingga penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL).

Guna mengantisipasi volatilitas pasar, investor disarankan memantau empat indikator utama secara bersamaan: Indeks Dolar AS (DXY), yield US Treasury 10 tahun, spread SUN terhadap US Treasury, dan arus modal asing (foreign flow). Selama tekanan yield tenor panjang dan foreign flow tetap terkendali, pasar obligasi pemerintah Indonesia diperkirakan memiliki daya tahan yang relatif solid.

Sumber : Infopublik.id

Also Read

Bagikan:

Tags

Leave a Comment