Nasional, Peloporkalimantan – Pelatihan vokasi menjadi instrumen penting dalam membuka peluang kerja serta mendorong kemandirian ekonomi bagi penyandang disabilitas. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat sebanyak 1.041 penyandang disabilitas telah mengikuti program pelatihan sepanjang periode Januari hingga Oktober 2026.
Sebagian besar alumni dari program tersebut dilaporkan telah berhasil terserap di dunia kerja, sementara sebagian lainnya mulai merintis usaha mandiri.
Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menyampaikan bahwa capaian ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menghadirkan kesetaraan akses keterampilan dan kesempatan kerja bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Semoga bisa terus ditingkatkan sampai akhir tahun. Menurut saya, 1.041 ini satu capaian yang luar biasa karena kita ingin menghadirkan kesempatan yang sama kepada teman-teman disabilitas. Sebagian besar dari mereka sudah bekerja dan membuka usaha sendiri,” ujar Yassierli dalam keterangan tertulisnya, Senin (19/10/2026).
Rencana Pembangunan Pusat Pelatihan Khusus di Bekasi
Sebagai langkah berkelanjutan untuk memperluas cakupan layanan vokasi, Kemnaker merencanakan pembangunan pusat pelatihan khusus penyandang disabilitas di Bekasi pada tahun 2027 mendatang.
Pusat pelatihan ini dirancang sebagai fasilitas inklusif yang mampu mengakomodasi kebutuhan beragam jenis disabilitas. Pilihan kejuruan yang akan disediakan mencakup layanan pusat panggilan (call center), teknologi informasi (IT), barista, hingga menjahit.
Kemnaker menargetkan fasilitas di Bekasi tersebut nantinya dapat menjadi percontohan (model) pengembangan pelatihan vokasi inklusif yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.
“Kita ingin teman-teman disabilitas tersenyum dan pemerintah hadir untuk mereka,” tegas Yassierli.
Dampak Nyata Pelatihan Bagi Peserta
Manfaat nyata dari program pelatihan vokasi ini dirasakan langsung oleh Muhammad Fahri (21), seorang penyandang disabilitas tunarungu. Setelah menyelesaikan program pelatihan barista selama satu bulan, Fahri berhasil diterima bekerja di sebuah kafe.
“Manfaatnya, setelah mengikuti pelatihan, saya mendapatkan pekerjaan. Sekarang saya sudah bekerja di sebuah kafe,” ungkap Fahri melalui penerjemah bahasa isyarat.
Pengalaman Fahri membuktikan bahwa pembekalan keterampilan praktis yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja mampu menjadi jembatan efektif bagi penyandang disabilitas untuk meraih kemandirian ekonomi dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembangunan.
Sumber : Infopublik.id








