OJK Siapkan Strategi Perkuat Pasar Modal dan Bursa Karbon

Nasional, Peloporkalimantan – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong Pasar Modal Indonesia untuk semakin berperan strategis dalam mendukung agenda prioritas pemerintah melalui penguatan integritas pasar, pendalaman likuiditas, perluasan basis investor institusi, serta percepatan pembangunan ekosistem ekonomi hijau dan bursa karbon yang kredibel.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan, pasar modal memiliki posisi penting sebagai sumber pembiayaan jangka panjang sekaligus penopang stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional. Hal tersebut disampaikannya dalam Pembukaan Perdagangan Perdana Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2026 di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (2/1/2026).

Mahendra menegaskan, OJK akan terus meningkatkan pelindungan terhadap investor minoritas dan ritel yang saat ini menopang kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Upaya tersebut dilakukan antara lain melalui penguatan pengawasan perilaku pasar (market conduct), termasuk terhadap influencer keuangan atau finfluencer.

OJK saat ini tengah memfinalisasi aturan khusus bagi finfluencer yang ditargetkan terbit pada pertengahan 2026. Regulasi tersebut akan menekankan aspek kapabilitas, transparansi, dan kepatuhan perizinan guna mendukung literasi dan edukasi investasi yang bertanggung jawab.

Selain itu, OJK juga mendorong peningkatan sinergi lintas pemangku kepentingan agar Pasar Modal Indonesia dapat berperan lebih besar sebagai sumber pendanaan bagi emiten dan menjadikan sektor jasa keuangan sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional. Sinergi dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dinilai menjadi kunci dalam menjaga stabilitas dan memperkuat kontribusi sektor keuangan.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama BEI Iman Rachman menyampaikan bahwa BEI telah menyiapkan masterplan pengembangan pasar modal periode 2026–2030. Melalui peta jalan tersebut, BEI menargetkan terwujudnya pasar modal yang inovatif, transparan, inklusif, dan berdaya saing global pada 2030.

Menurut Iman, target tersebut didukung oleh penguatan infrastruktur pasar, peningkatan kualitas emiten dan investor, serta perluasan partisipasi publik. BEI juga terus mendorong inovasi produk dan pendalaman pasar agar pasar modal tidak hanya tumbuh dari sisi nilai, tetapi juga semakin berperan dalam pembiayaan jangka panjang perekonomian nasional.

Sepanjang 2025, Pasar Modal Indonesia mencatat kinerja positif. IHSG ditutup pada level 8.646,94 poin atau menguat 22,13 persen secara year to date (ytd), serta mencatatkan beberapa kali rekor tertinggi sepanjang tahun. Investor non-residen yang sempat mencatatkan net sell di awal tahun kembali melakukan net buy pada Semester II-2025 sebesar Rp36,23 triliun.

Dari sisi penghimpunan dana, hingga akhir 2025 tercatat 215 penawaran umum dengan nilai Rp275 triliun, termasuk 18 emiten baru dengan nilai IPO Rp14,41 triliun. Rata-rata nilai transaksi harian juga meningkat menjadi Rp18,1 triliun, seiring pertumbuhan jumlah investor yang mencapai 20,2 juta Single Investor Identification (SID), didominasi investor berusia di bawah 40 tahun.

Meski demikian, OJK menilai masih terdapat ruang penguatan, terutama pada kontribusi pasar saham terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang berada di level 72 persen, masih di bawah sejumlah negara kawasan. Porsi transaksi investor ritel yang meningkat menjadi 50 persen juga memperkuat urgensi perlindungan investor dari praktik manipulasi dan transaksi tidak wajar.

Memasuki 2026, OJK bersama Self-Regulatory Organization (SRO) akan mengimplementasikan sejumlah kebijakan strategis, antara lain peningkatan kualitas perusahaan tercatat, penguatan transparansi kepemilikan manfaat akhir (ultimate beneficial owner), perluasan basis investor institusi, reformasi tata kelola pasar saham, serta penguatan manajemen risiko dan teknologi informasi.

OJK juga melanjutkan pengembangan ekosistem perdagangan karbon melalui pembangunan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan BEI, sebagai upaya menghadirkan sistem pencatatan unit karbon yang transparan dan berstandar global guna mendorong pendalaman pasar dan percepatan ekonomi hijau nasional.

Dengan berbagai langkah tersebut, OJK menegaskan komitmennya untuk mewujudkan Pasar Modal Indonesia yang likuid, efisien, transparan, berintegritas, dan berdaya saing global, sekaligus menjadi pilar pembiayaan pembangunan berkelanjutan dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Also Read

Bagikan:

Tags

Tinggalkan komentar