Kasus Stunting Terkonsentrasi di 16 Provinsi, Kemenkes Fokus Perkuat ANC dan PMT

Nasional, Peloporkalimantan – Upaya percepatan penurunan stunting sepanjang 2025 menunjukkan progres positif. Kementerian Kesehatan mencatat delapan dari 11 indikator intervensi spesifik telah memenuhi target nasional. Meski demikian, penguatan pada indikator pemberian makanan tambahan (PMT) dan pemeriksaan kehamilan minimal enam kali atau antenatal care (ANC) masih diperlukan guna memastikan capaian yang lebih optimal pada 2026.

Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, Lovely Daisy, menjelaskan publikasi data intervensi stunting 2025 telah melalui sejumlah tahapan, mulai dari umpan balik awal tahun, klinik data bersama dinas kesehatan kabupaten/kota dan provinsi, hingga finalisasi capaian nasional.

“Kita tetap konsisten melakukan publikasi data setiap tahun sebagai bentuk transparansi dan penguatan akuntabilitas. Data ini akan menjadi dasar pelaporan kepada Kementerian Dalam Negeri serta pengambilan kebijakan di tahun berikutnya,” ujar Lovely saat memaparkan Data Publikasi Intervensi Stunting 2025 di Jakarta, Rabu (25/2/2026).

Secara nasional, berdasarkan data 2024, jumlah balita stunting tercatat sebanyak 4.482.340 anak. Sebanyak 80 persen kasus berada di 16 provinsi, dengan sekitar 50 persen terkonsentrasi di enam provinsi yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Utara, Banten, dan Sulawesi Selatan. Provinsi lain yang juga menjadi kontributor besar adalah Aceh, Kalimantan Barat, DKI Jakarta, Sumatra Barat, Lampung, Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Nusa Tenggara Barat.

Menurut Lovely, konsentrasi kasus tersebut menjadi dasar penentuan prioritas intervensi. Fokus pada wilayah dengan beban terbesar dinilai akan memberikan dampak signifikan terhadap penurunan angka stunting nasional.

Dari sisi prevalensi, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia 2024, Indonesia untuk pertama kalinya masuk kategori prevalensi stunting “sedang” menurut klasifikasi WHO, yakni di bawah 20 persen. Target prevalensi stunting pada 2025 ditetapkan sebesar 14,8 persen, dengan target jangka menengah 14,2 persen pada 2029.

Meski tren menunjukkan perbaikan, sejumlah indikator gizi masih menjadi perhatian. Indikator wasting mengalami penurunan dibandingkan 2023, namun indikator underweight justru sedikit meningkat. Kondisi ini menjadi peringatan dini karena balita dengan berat badan kurang berisiko berkembang menjadi stunting apabila tidak segera ditangani.

Sebanyak 11 indikator intervensi spesifik sektor kesehatan dirancang menggunakan pendekatan siklus hidup, dimulai sejak remaja hingga balita. Pada kelompok remaja putri, intervensi meliputi skrining anemia bagi siswi kelas 7 dan kelas 10 serta konsumsi tablet tambah darah (TTD).

Pada ibu hamil, intervensi mencakup pemeriksaan kehamilan minimal enam kali, konsumsi tablet tambah darah atau multiple micronutrient supplement (MMS) minimal 180 tablet selama kehamilan, serta pemberian PMT bagi ibu hamil dengan kondisi kurang energi kronis (KEK). Sementara pada bayi dan balita, intervensi meliputi pemantauan pertumbuhan dan perkembangan, pemberian ASI eksklusif, MPASI sesuai standar, asupan protein hewani, tata laksana balita dengan masalah gizi, imunisasi dasar lengkap, serta edukasi gizi keluarga.

Lovely juga menyoroti perubahan standar konsumsi tablet tambah darah bagi ibu hamil. Jika pada 2024 indikator minimal konsumsi adalah 90 tablet selama kehamilan, maka mulai 2025 standar ditingkatkan menjadi minimal 180 tablet. Perubahan ini membuat indikator menjadi lebih ketat sehingga memengaruhi capaian persentase, meskipun target telah disesuaikan.

Ke depan, indikator yang belum optimal, khususnya ANC enam kali dan PMT bagi ibu hamil KEK, akan menjadi fokus penguatan pada 2026. Pemerintah pusat dan daerah akan memperkuat koordinasi lintas sektor guna memastikan intervensi berjalan konsisten dan tepat sasaran berbasis data.

Sumber : Infopublik.id

Also Read

Bagikan:

Tags

Tinggalkan komentar