PeloporKalimantan, Jakarta, – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berpotensi melemah pada perdagangan akhir pekan ini setelah ditutup turun 0,26 persen ke level 6.647 pada sesi sebelumnya. Pelemahan IHSG pada Kamis (13/3) dipicu oleh tekanan jual pada 322 saham, sementara 287 saham lainnya turut terkoreksi, dan 189 saham stagnan.
Nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga mengalami penurunan menjadi Rp8,85 triliun, lebih rendah dibandingkan dengan transaksi sehari sebelumnya yang mencapai Rp9,87 triliun. Analis WH Project, William Hartanto, menilai bahwa minimnya transaksi mencerminkan sikap “wait and see” dari investor. Dari segi teknikal, IHSG membentuk pola inverted head and shoulders dengan neckline di level 6.900, yang berpotensi mendorong rebound. Namun, untuk hari ini, IHSG diprediksi bergerak dalam rentang 6.595 hingga 6.700 dengan kecenderungan melemah.
William menjelaskan bahwa level 6.700 masih menjadi perhatian utama bagi pelaku pasar, mengingat IHSG belum menunjukkan momentum kuat untuk melanjutkan penguatan. Faktor eksternal seperti kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, serta potensi resesi di AS turut mempengaruhi sentimen pasar. Selain itu, aksi jual oleh investor asing masih menjadi tekanan bagi IHSG.
Pada perdagangan sebelumnya, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp771,37 miliar di pasar reguler BEI. Saham yang mengalami aksi jual terbesar di antaranya adalah BMRI, BBRI, BBNI, BBCA, dan TLKM.
Untuk menghadapi kondisi pasar saat ini, WH Project merekomendasikan saham JPFA dan JARR sebagai pilihan investasi. Sementara itu, saham BBNI dan WIFI mendapat rating Sell on Strength, yang berarti disarankan untuk dijual ketika harga mengalami penguatan. Dengan volatilitas pasar yang masih tinggi, investor disarankan tetap mencermati pergerakan harga saham dan faktor eksternal yang dapat mempengaruhi pergerakan IHSG.









