Nasional, Peloporkalimantan – Kepercayaan publik dinilai sebagai fondasi paling krusial dalam pengembangan serta pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) di Indonesia. Hal tersebut ditegaskan oleh Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, saat berbicara dalam rangkaian The 5th IABC Indonesia Conference & Awards 2026 yang mengusung tema “Driving Communications Impact: Building Trust in the Age of AI”, Senin (21/9/2026).
Menurut Nezar, kepercayaan merupakan motor utama yang mendorong masyarakat untuk mengadopsi dan memanfaatkan layanan berbasis digital. Oleh karena itu, perkembangan pesat teknologi AI harus selalu diiringi dengan jaminan integritas informasi (information integrity) agar setiap teknologi yang diakses publik dapat dipertanggungjawabkan kredibilitasnya.
“Trust ini sangat penting karena merupakan faktor utama yang membuat publik mau masuk ke dalam satu layanan berbasis digital. Dari sisi komunikasi, hal mendasar dalam penggunaan AI adalah memastikan adanya information integrity sehingga dapat dipertanggungjawabkan dan kredibel,” ujar Nezar.
Ia tidak memungkiri bahwa tantangan dalam merawat kepercayaan publik semakin kompleks di tengah kemampuan AI yang kian canggih. Teknologi ini tidak sekadar memproduksi informasi dalam skala besar, tetapi juga mampu menciptakan konten manipulatif yang menyerupai kenyataan, mulai dari misinformasi, disinformasi, hingga deepfake. Kondisi ini membuat masyarakat kian kesulitan membedakan informasi autentik dengan konten palsu.
Urgensi penguatan kepercayaan ini turut terefleksi dari data Reuters Institute Digital News Report 2026, di mana tingkat kepercayaan terhadap berita di Indonesia tercatat sebesar 32 persen—turun empat poin dari tahun sebelumnya—sementara hanya 20 persen responden yang menyatakan percaya pada informasi dari chatbot AI.
Guna merespons tantangan tersebut, Wamenkomdigi menekankan bahwa ekosistem AI nasional harus diarahkan agar tumbuh secara inklusif, berdaya, dan berdaulat. Khusus dalam sektor pelayanan publik, penerapan AI menuntut mekanisme pengamanan yang ketat seperti safeguards, pengujian, sandboxing, kepatuhan, serta evaluasi mendalam agar kesalahan sistem tidak mencederai kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.
Konferensi tingkat tinggi ini turut menghadirkan berbagai pandangan strategis dari para pemangku kepentingan. President IABC Indonesia sekaligus CEO VMCS Communications and Social Impact, Elvera N. Makki, menyoroti bagaimana AI telah merombak lanskap profesi komunikasi. Menurutnya, di tengah banjir informasi yang meyakinkan, peran komunikator bergeser untuk membantu publik memilah kebenaran dan membangun pemahaman yang utuh.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Stella Christie, memandang Indonesia memiliki peluang strategis dalam mengoptimalkan AI melalui penguatan infrastruktur, kebijakan, serta talenta. Pandangan serupa disampaikan oleh Anggota DPD RI asal Bali, Ni Luh Djelantik, serta Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, yang menekankan pentingnya transparansi, akuntabilitas, serta kepastian agar kemajuan teknologi benar-benar memberikan kemaslahatan nyata bagi masyarakat luas.
Sumber : Infopublik.id







