Ekonom Soroti Pentingnya Sinkronisasi Fiskal dan Moneter Jaga Rupiah

Nasional, Peloporkalimantan – Pelemahan rupiah di tengah tingginya tekanan global dinilai tidak semata mencerminkan memburuknya fundamental ekonomi Indonesia. Sejumlah ekonom menilai pergerakan nilai tukar saat ini lebih banyak dipengaruhi kombinasi tekanan eksternal, arah kebijakan domestik, serta dinamika penyesuaian ekonomi yang belum sepenuhnya seimbang.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai rupiah saat ini berada dalam fase overshooting, yakni kondisi ketika pelemahan nilai tukar bergerak lebih dalam dibandingkan fundamental jangka panjang ekonomi nasional.

Menurut Fakhrul, pasar keuangan tidak hanya membaca data ekonomi terkini, tetapi juga menilai arah kebijakan, konsistensi respons pemerintah, serta kemampuan menjaga stabilitas di tengah perubahan global yang semakin cepat.

“Pasar keuangan tidak hanya membaca data hari ini. Pasar membaca arah kebijakan, kredibilitas respons, dan kemampuan negara menjaga stabilitas di tengah perubahan global yang sangat cepat,” ujarnya, Kamis (28/5/2026).

Ia menilai tekanan terhadap rupiah saat ini muncul karena nilai tukar menjadi saluran penyesuaian utama dari berbagai tekanan ekonomi yang seharusnya tersebar ke berbagai sektor.

Dalam kondisi normal, kenaikan harga energi global biasanya tercermin pada sejumlah indikator sekaligus, mulai dari inflasi, beban fiskal, harga domestik, hingga nilai tukar. Namun ketika penyesuaian harga domestik dilakukan sangat hati-hati untuk menjaga daya beli dan stabilitas sosial, sebagian tekanan akhirnya berpindah ke pasar valuta asing.

“Rupiah akhirnya menjadi shock absorber utama. Inflasi ditahan, harga energi ditahan, tetapi tekanan ekonominya tidak hilang. Tekanan itu pindah ke kurs,” jelasnya.

Pandangan tersebut, lanjut Fakhrul, sejalan dengan teori Dornbusch Overshooting, yakni ketika harga domestik bergerak relatif kaku sementara pasar keuangan bereaksi cepat sehingga nilai tukar berfluktuasi lebih ekstrem dibanding fundamental ekonomi.

Meski demikian, ia menilai kondisi tersebut tidak berarti fundamental Indonesia melemah drastis. Inflasi domestik masih relatif terkendali, sektor perbankan tetap sehat, dan pertumbuhan ekonomi masih berada pada jalur positif. Namun yang tengah diuji pasar saat ini adalah kredibilitas kebijakan serta keberadaan policy anchor yang mampu memberi kepastian di tengah volatilitas global.

Fakhrul menyebut tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi eksternal, penguatan dolar AS, tingginya imbal hasil US Treasury, ketegangan geopolitik, serta fragmentasi perdagangan dunia menjadi faktor dominan.

Sementara dari dalam negeri, pasar melihat adanya tantangan sinkronisasi antara kebijakan fiskal dan moneter.

“Ketika fiskal memilih menjaga inflasi tetap rendah dan penyesuaian harga sangat terbatas, maka BI dan rupiah harus bekerja jauh lebih keras,” katanya.

Dalam konteks tersebut, Fakhrul menilai langkah Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi sinyal penting untuk menjaga kredibilitas kebijakan dan stabilitas pasar.

Menurutnya, pendekatan yang lebih pre-emptive dan ahead the curve diperlukan agar tekanan terhadap nilai tukar tidak berlarut-larut dan menjalar ke sektor ekonomi lainnya.

“Kadang bank sentral harus bertindak sebelum inflasi benar-benar muncul,” ujarnya.

Namun ia menekankan stabilisasi rupiah tidak dapat dibebankan kepada Bank Indonesia semata. Yang dibutuhkan saat ini adalah balanced policy mix atau koordinasi kebijakan yang lebih seimbang antara fiskal dan moneter.

Fakhrul mengatakan pasar ingin melihat pemerintah dan bank sentral bergerak dalam arah yang sama melalui komunikasi kebijakan yang kuat serta roadmap penyesuaian ekonomi yang jelas.

“Pasar ingin melihat burden sharing yang lebih seimbang. Jangan semua tekanan ditanggung rupiah dan BI,” jelasnya.

Ia juga menyoroti dampak pelemahan rupiah dan tingginya yield obligasi terhadap sektor riil. Banyak industri manufaktur dan sektor domestik masih bergantung pada impor bahan baku, mesin, energi, serta pembiayaan.

“Kalau kondisi seperti ini terlalu lama, maka perusahaan tidak hanya menghadapi tekanan margin, tetapi juga mulai menahan ekspansi, mengurangi investasi, dan lebih defensif terhadap perekrutan tenaga kerja,” ujarnya.

Meski demikian, dampaknya dinilai tidak seragam. Sektor komoditas berbasis ekspor cenderung lebih diuntungkan karena pendapatan berbasis dolar, sementara sektor yang bergantung pada impor dan sensitif terhadap suku bunga menghadapi tekanan lebih besar.

Ke depan, Fakhrul Fulvian masih melihat ruang penguatan rupiah terbuka apabila koordinasi kebijakan semakin solid dan pasar memperoleh kepastian mengenai arah fiskal serta stabilitas makro.

“Level rupiah saat ini menurut saya terlalu lemah dibanding kapasitas ekonomi Indonesia sebenarnya,” pungkasnya.

Sumber : Infopublik.id

Also Read

Bagikan:

Tags

Tinggalkan komentar