AI dan Masa Depan Kreativitas Generasi Muda di Persimpangan

Nasional, Peloporkalimantan – Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) yang melaju pesat dinilai membawa tantangan serius bagi masa depan kreativitas generasi muda. Di tengah banjir konten digital, krisis keaslian, serta ancaman manipulasi informasi, pemanfaatan AI dinilai harus diimbangi dengan nilai, nalar, dan etika manusia.

Isu tersebut mengemuka dalam kegiatan Indonesia.go.id Goes to Campus (IGtC) bertajuk “AI: Sahabat atau Musuh Kreativitas? Bikin Konten Gokil & Tetap Etis” yang digelar di Sekolah Tinggi Multi Media (STMM) Yogyakarta, Rabu (21/1/2026).

Direktur Informasi Publik Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Nursodik Gunarjo, menegaskan bahwa teknologi, termasuk AI, tidak pernah bersifat netral. Arah dan dampaknya sangat ditentukan oleh manusia yang menggunakannya.

“Teknologi itu tidak pernah netral; ia selalu mengikuti nilai orang yang menggunakannya. AI boleh semakin pintar, tetapi masa depan bangsa tetap ditentukan oleh nilai, nalar, dan keberanian manusianya,” ujar Nursodik.

Melalui program IGtC, Kemkomdigi hadir langsung di kampus untuk membuka ruang dialog dengan mahasiswa. Program ini dirancang sebagai forum diskusi kritis agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi secara kreatif dan bertanggung jawab.

Nursodik menekankan, AI dapat menjadi ancaman bagi kreativitas apabila seluruh proses berpikir diserahkan sepenuhnya kepada mesin. Bagi mahasiswa, AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti nalar manusia.

Sementara itu, Ketua STMM MMTC Yogyakarta Agung Harimurti mengingatkan adanya ancaman serius di balik kemajuan AI, khususnya terkait manipulasi digital dan keamanan informasi. Ia menyebutkan bahwa pada 2025 tercatat sekitar 8 juta konten deepfake beredar, dengan tingkat keberhasilan manipulasi suara mencapai 77 persen dalam menipu korban.

Agung juga menyoroti risiko penggunaan AI terhadap integritas akademik. Menurutnya, pemanfaatan AI yang tidak bijak berpotensi mengikis proses belajar mahasiswa.

Pakar digital branding Ruli Nasrullah menilai AI merupakan keniscayaan zaman yang harus disikapi secara proporsional. Dalam dunia kreatif, menurutnya, autentisitas dan jati diri tetap menjadi kunci agar manusia tidak tergantikan oleh teknologi.

Senada dengan itu, Kepala Program Studi Manajemen Produksi STMM Yogyakarta Diyah Ayu menegaskan bahwa etika harus menjadi fondasi utama dalam pemanfaatan AI. Ia menilai penggunaan teknologi tidak boleh semata mengejar efisiensi, tetapi harus berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Tim Analisis Isu Publik Kawedanan Tandha Yekti Keraton Yogyakarta, Satya Bilal, yang menyebut teknologi, termasuk AI, telah menjadi kebutuhan utama bagi generasi muda di masa depan. Ia mendorong mahasiswa melihat AI sebagai peluang selama dimanfaatkan secara bijak dan beretika.

Melalui IGtC, Kemkomdigi berharap kampus dapat menjadi garda depan dalam membangun ekosistem digital nasional yang kreatif, kritis, dan berlandaskan nilai kemanusiaan, sehingga AI benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat dan pembangunan bangsa.

Sumber : Infopublik.id

Also Read

Bagikan:

Tags

Tinggalkan komentar