Penggerak Utama PDB Nasional, Menko Airlangga Paparkan Paket Stimulus dan Ketahanan Ekonomi Triwulan III-2026

Nasional, Peloporkalimantan – Ketahanan perekonomian Indonesia terus menunjukkan performa solid dan resilien di tengah ketidakpastian serta dinamika global. Fundamental ekonomi nasional yang kokoh tercermin dari capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,47 persen (yoy) pada Triwulan III-2026, meningkat signifikan dibandingkan Triwulan II-2026 yang mencatatkan angka 5,20 persen. Secara kumulatif (cumulative-to-cumulative), pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,45 persen.

Capaian pertumbuhan impresif ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kinerja pertumbuhan ekonomi tertinggi di antara negara-negara anggota G20, melampaui posisi Tiongkok (4,5 persen), Korea Selatan (3,4 persen), Jerman (1,2 persen), dan Jepang (0,7 persen), dengan India berada di posisi teratas yakni 7,8 persen.

Sejalan dengan tren positif ini, lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia, IMF, OECD, dan ADB memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tetap stabil pada kisaran 5,0–5,2 persen sepanjang tahun 2026 hingga 2027.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, membeberkan bahwa performa kuat pada kuartal ketiga ini didorong oleh solidnya daya beli masyarakat serta percepatan realisasi belanja negara.

“Pertumbuhan di kuartal ketiga ini ditopang oleh permintaan domestik. Daya beli masih tumbuh 5,04 persen melalui konsumsi rumah tangga yang menyumbang kontribusi sebesar 51,97 persen terhadap PDB Nasional. Selain itu, konsumsi pemerintah tumbuh positif di angka 8,95 persen. Belanja Pemerintah memang digenjot pada Q2 dan Q3, terutama untuk penguatan program unggulan nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan (KDKMP),” jelas Menko Airlangga dalam Konferensi Pers di Jakarta, Kamis (5/11/2026).

Sektor Manufaktur, Investasi, dan Paket Stimulus Ekonomi

Dari sisi sektoral, pertumbuhan Triwulan III-2026 digerakkan oleh industri pengolahan (manufaktur) yang memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB nasional sebesar 19,22 persen dengan pertumbuhan 5,87 persen. Kinerja ini disokong oleh industri logam dasar (9,94 persen), kimia dan farmasi (8,10 persen), makanan dan minuman (7,09 persen), serta otomotif (6,14 persen). Penerapan mandatori B50 sejak 1 Juli 2026 turut mendorong lompatan produksi FAME dan hilirisasi sektor kimia.

Sementara itu, akselerasi sektor jasa juga mencatatkan angka tinggi:

  • Akomodasi & Makan Minum: Tumbuh 11,22 persen, didorong lonjakan wisatawan di wilayah Bali dan Nusa Tenggara (6,08 persen).

  • Jasa Keuangan & Transportasi: Tumbuh masing-masing 8,47 persen dan 8,03 persen.

  • Konstruksi: Tumbuh 6,42 persen ditopang oleh percepatan proyek strategis dan pembangunan Sekolah Rakyat.

Di sektor investasi, realisasi pada Triwulan III-2026 menembus Rp528,7 triliun (tumbuh 7,6 persen yoy) dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 745.634 orang. Porsi investasi luar Jawa melesat hingga 51,4 persen. Secara akumulatif (Januari–September 2026), investasi nasional telah terealisasi sebesar Rp1.539,2 triliun atau 75 persen dari target tahunan, di mana sektor hilirisasi menyumbang Rp179,9 triliun. Dampak positifnya, tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 4,75 persen dan angka kemiskinan nasional turun menjadi 8,07 persen.

Untuk menjaga daya beli dan mobilitas masyarakat menjelang periode Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 (Nataru), Pemerintah meluncurkan rangkaian stimulus akhir tahun. Program ini mencakup bantuan pangan beras 10 kg bagi 33,24 juta keluarga, Bantuan Subsidi Upah (BSU) Rp900 ribu bagi 13,3 juta pekerja, fasilitas PPN DTP 100 persen tiket pesawat ekonomi domestik, diskon tiket kereta api 30 persen, serta pembebasan tarif pelabuhan penyeberangan ASDP.

Also Read

Bagikan:

Tags

Leave a Comment