Nasional, Peloporkalimantan – Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, mengingatkan bahwa kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) bukanlah solusi tunggal untuk mengembalikan keperkasaan nilai tukar rupiah. Efektivitas kebijakan moneter tersebut sangat bergantung pada sejumlah faktor pendukung yang menentukan tingkat kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi nasional.
Menurut Josua, kenaikan bunga acuan lebih tepat dilihat sebagai instrumen taktis untuk meredam tekanan pasar dalam jangka pendek. Setidaknya ada tiga syarat utama agar kebijakan pengetatan moneter ini mampu memberikan dampak optimal terhadap stabilisasi mata uang garuda.
Syarat pertama, kenaikan suku bunga harus mampu memicu arus masuk modal asing (capital inflow) ke instrumen keuangan domestik, seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Masuknya dana segar ini akan memperkuat permintaan rupiah dan mengurangi tensi tinggi di pasar valuta asing (valas).
Syarat kedua, diperlukan koordinasi yang kuat antara Bank Indonesia dan pemerintah dalam menjaga stabilitas likuiditas sektor keuangan. Pengetatan moneter harus diimbangi dengan langkah-langkah yang memastikan likuiditas perbankan tetap memadai agar tidak mencekik penyaluran kredit dan aktivitas sektor riil.
Terakhir, pemerintah perlu memperkuat sentimen pasar melalui disiplin fiskal yang ketat, komunikasi kebijakan yang transparan, serta konsistensi dalam menjaga iklim investasi. Jika ketiga pilar ini tidak berjalan beriringan, Josua memperingatkan bahwa kenaikan suku bunga hanya akan membeli waktu dengan biaya yang semakin mahal.
Di sisi lain, kritik tajam datang dari Direktur Eksekutif Centre for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, yang mendesak Gubernur BI Perry Warjiyo segera mengundurkan diri. Uchok menilai rentetan kebijakan yang dikeluarkan bank sentral sejauh ini telah gagal menyelamatkan nilai tukar rupiah dari keterpurukan.
Uchok mengingatkan bahwa berdasarkan Pasal 7 Undang-Undang tentang Bank Indonesia, tugas utama lembaga tersebut adalah mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Ia menilai arah kebijakan moneter saat ini kehilangan desain besar, sehingga dana asing enggan masuk dan membuat cadangan devisa terancam kering akibat terus dipakai intervensi.
Sebagai catatan historis, berdasarkan data kurs tengah BI, posisi rupiah berada di level Rp14.878 per dolar AS saat Perry pertama kali dilantik. Uchok menuding langkah BI menaikkan BI Rate dan bunga SRBI saat ini hanya taktik instan untuk menahan investor agar tidak menarik dana mereka yang telah jatuh tempo.
Ia mengibaratkan kebijakan menaikkan bunga tinggi tersebut layaknya memberikan obat penenang sesaat untuk penyakit mematikan sekelas kanker. Uchok bahkan melontarkan ancaman akan mendorong audit investigasi yang ketat atas seluruh rekam jejak penggunaan dana intervensi valas BI jika desakan mundur tersebut diabaikan.
Sumber : Infopublik.id








