Kelola Tekanan Karier dan FOMO, Generasi Muda Diajak Kenali Diri Lewat Konsep Paycheck, Passion, dan Purpose

Nasional, Peloporkalimantan – Generasi muda diajak untuk memahami quarter life crisis bukan sebagai jalan buntu, melainkan sebagai fase transisi kehidupan yang wajar menuju kedewasaan. Pengelolaan krisis ini dapat dilalui dengan memperkuat pengenalan diri, menetapkan ekspektasi yang realistis, serta berani mengambil langkah mencoba hal-hal baru.

Pesan strategis tersebut ditegaskan oleh praktisi karier, Samuel Ray (yang akrab disapa Koh Sem), saat menjadi narasumber dalam sesi Quarter Life Crisis, Career & Adulting pada rangkaian Indonesia Youth Summit 2026 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Sesi yang dipandu oleh Shandy Luo dan Chika Audika tersebut mengupas tuntas tekanan psikologis dan tantangan adaptasi yang kerap dialami anak muda saat memasuki fase usia produktif.

Samuel menjelaskan bahwa quarter life crisis umumnya ditandai oleh kecemasan mendalam terhadap masa depan, keraguan menentukan arah karier, serta munculnya perasaan tertinggal ketika membandingkan pencapaian diri dengan pergerakan orang lain di media sosial.

“Media sosial sering kali memperkuat standar keberhasilan yang tidak selalu relevan dengan kebutuhan pribadi kita. You don’t try, you don’t know. Seseorang tidak akan pernah mengetahui potensi dan batas kemampuannya secara nyata jika hanya menjadi penonton pengalaman orang lain di balik layar,” ujar Samuel.

Tiga Kerangka Karier: Paycheck, Passion, dan Purpose

Berbagi pengalaman personalnya saat melakukan eksekusi alih karier (career switch) di masa pandemi, Samuel menekankan bahwa perubahan dan evaluasi hidup dapat terjadi di setiap jenjang usia. Ia memperkenalkan tiga elemen kerangka kerja karier bagi generasi muda, yakni paycheck (penghasilan pemenuh kebutuhan hidup), passion (minat eksplorasi), dan purpose (tujuan mendasar dalam berkarya).

Menurut Samuel, ketiga aspek tersebut tidak harus ditemukan atau diraih secara bersamaan pada awal usia 20-an. Generasi muda disarankan untuk tidak memaksakan diri secara berlebihan dan membiarkan ketiga elemen tersebut terbangun secara bertahap melalui proses pembelajaran yang konsisten.

Antisipasi Burnout dan Bertransisi dari FOMO ke JOMO

Selain persoalan penyelarasan karier, Samuel turut menyoroti bahaya kelelahan mental (burnout) yang ditandai oleh keletihan fisik yang tak kunjung pulih, munculnya sikap sinis terhadap pekerjaan, hingga penurunan performa yang dibayangi rasa bersalah. Ia mengimbau anak muda untuk segera mengomunikasikan kondisi tersebut dan tidak ragu mencari bantuan profesional jika diperlukan.

Sebagai solusinya, ia mengajak anak muda bertransisi dari fenomena Fear of Missing Out (FOMO) menuju Joy of Missing Out (JOMO)—sebuah kesadaran penuh bahwa kebahagiaan dan tren orang lain tidak selalu selaras dengan nilai hidup pribadi.

“Quarter life crisis adalah sebuah fase. It’s just a phase, set realistic expectations, take life one day at a time, and if needed, get help. Hadapi hidup satu hari demi satu hari secara bertahap,” pungkas Samuel menutup pemaparannya.

Melalui Indonesia Youth Summit 2026 ini, penguatan kapasitas pemuda tidak hanya difokuskan pada penguasaan keterampilan teknis dunia kerja, melainkan juga pada pembentukan ketahanan mental, pemahaman diri, dan fleksibilitas dalam mengarungi dinamika kehidupan.

Sumber : Infopublik.id

Also Read

Bagikan:

Tags

Leave a Comment