Nasional, Peloporkalimantan – Nilai tukar rupiah diproyeksikan melanjutkan tren penguatan pada pekan depan seiring meningkatnya kepercayaan pasar terhadap langkah stabilisasi ekonomi domestik. Setelah sempat tertekan dalam beberapa bulan terakhir, mata uang garuda dinilai mulai mendapatkan fondasi yang jauh lebih kokoh untuk bergerak di zona positif.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, memperkirakan rupiah berpotensi besar menguat menuju kisaran Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini dipicu oleh pandangan investor yang melihat adanya arah kebijakan ekonomi nasional yang semakin jelas dan konsisten, terutama dalam menjaga stabilitas makroekonomi.
Fakhrul menjelaskan, terdapat tiga faktor domestik utama yang menjadi jangkar penguatan rupiah saat ini. Faktor pertama adalah komitmen kuat Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 75 basis poin demi meningkatkan daya tarik instrumen keuangan dalam negeri.
Faktor kedua, kebijakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax dinilai berhasil memperbaiki persepsi pasar terhadap kesehatan fiskal Indonesia. Langkah berani ini dibaca oleh para pelaku pasar sebagai komitmen nyata pemerintah dalam menjaga keberlanjutan struktur APBN.
Faktor ketiga adalah adanya efisiensi anggaran pada sejumlah program prioritas pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Pengetatan ini mengirimkan sinyal positif kepada investor global bahwa disiplin fiskal di dalam negeri kembali diperkuat.
Respons pasar terhadap kombinasi kebijakan moneter BI dan reformasi fiskal pemerintah tersebut mulai menunjukkan hasil nyata. Pada pekan lalu, rupiah tercatat sukses menorehkan prestasi sebagai mata uang dengan performa penguatan terbesar kedua di Asia setelah won Korea Selatan.
Selain faktor internal, perkembangan geopolitik global juga dinilai ikut menguntungkan posisi mata uang rupiah. Fakhrul menyoroti membaiknya hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi menurunkan premi risiko global serta menekan volatilitas harga energi dunia.
Meredanya tensi politik internasional tersebut diprediksi akan mendorong para investor global untuk kembali mengalirkan modal mereka ke aset-aset negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia. Untuk perdagangan pekan depan, rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.450 hingga Rp17.650 per dolar AS dengan kecenderungan menguat.
Sumber : Infopublik.id








