Sektor Pertanian Karawang Disuntik Teknologi Baru Guna Halau Penyakit Tanaman Padi

Nasional, Peloporkalimantan – Kabupaten Karawang terus memperkokoh posisinya sebagai salah satu pilar utama lumbung padi nasional. Setelah berhasil mencatatkan produksi yang impresif sebesar 1.194.711 ton Gabah Kering Giling (GKG) sepanjang tahun 2025, Karawang kini menempati urutan kedua sebagai produsen padi terbesar di Jawa Barat setelah Kabupaten Indramayu. Kendati produktivitas rata-rata daerah berada di angka 5,9 hingga 6 ton per hektar, beberapa wilayah yang disokong jaringan irigasi teknis mumpuni bahkan sanggup menyentuh hasil panen optimal berkisar 7 hingga 8 ton per hektar.

Namun, keberlanjutan sektor agraria di wilayah ini tidak luput dari ancaman serius, mulai dari laju alih fungsi lahan yang masif, anomali iklim ekstrem, hingga ancaman serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Merespons tantangan tersebut, Syngenta Indonesia secara resmi meluncurkan produk fungisida inovatif MIRAVIS Duo® di Learning Development Center (LDC) Karawang, Jawa Barat, pada Selasa (9/6/2026). Produk mutakhir berbasis teknologi ADEPIDYN™ ini dihadirkan sebagai instrumen perlindungan tanaman yang lebih progresif guna mengawal kualitas dan kuantitas hasil tani setempat.

Pemerintah Kabupaten Karawang menyambut hangat terobosan teknologi pertanian ini. Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Karawang, Drs. Rohman, M.Si., mengemukakan dalam siaran persnya pada Jumat (12/6/2026) bahwa dari total 99 ribu hektar lahan sawah di Karawang, sekitar 86 ribu hektar di antaranya telah dilindungi di bawah regulasi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Kehadiran inovasi ini dinilai sangat momentum di saat tren harga dan produktivitas padi di Karawang sedang dalam kondisi grafik yang baik, sehingga diharapkan mampu mempercepat adopsi teknologi oleh para petani lokal.

Presiden Direktur Syngenta Indonesia, Eryanto, menegaskan bahwa kehadiran produk baru ini merupakan wujud nyata dari visi Petani MAJU dalam mendorong pertanian yang berkelanjutan di tengah fluktuasi iklim. Keunggulan komparatif dari formula ini terletak pada kemampuannya yang cepat diserap oleh jaringan tanaman hanya dalam waktu enam jam setelah aplikasi, serta sanggup memberikan benteng perlindungan aktif dari serangan penyakit hingga 14 hari berturut-turut. Intervensi kimiawi yang aman ini berfokus pada menjaga daun bendera padi agar tetap hijau bersih, yang berbanding lurus dengan optimalisasi proses fotosintesis tanaman.

Dampak positif dari penggunaan formula ini diakui langsung oleh Haji Lukman, salah seorang petani lokal yang sempat mencoba mengaplikasikannya saat fase tanaman berusia sekitar 50 hari setelah tanam. Lukman mengaku tanaman padinya yang semula kusam dan sempat terindikasi penyakit kresek bertransformasi menjadi lebih sehat, dengan hasil bulir gabah yang bersih dan berkilau saat masa panen tiba. Agenda peluncuran ini dihadiri oleh 650 petani dari berbagai kecamatan di Karawang, dan ke depan Syngenta berkomitmen untuk memperluas distribusi teknologi ini ke berbagai wilayah sentra padi lain di tanah air demi mendukung target swasembada beras nasional.

Sumber : Infopublik.id

Also Read

Bagikan:

Tags

Tinggalkan komentar