Nasional, Peloporkalimantan – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi hujan masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia selama sepekan ke depan, meskipun sebagian wilayah telah memasuki musim kemarau dan masa peralihan musim.
Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Zen Putri mengatakan aktivitas gelombang atmosfer dan sirkulasi siklonik masih memengaruhi dinamika cuaca nasional pada periode 22–28 Mei 2026.
“Kondisi tersebut ditandai dengan peralihan musim dari hujan menuju kemarau yang memicu cuaca panas pada pagi hingga siang hari, namun tetap menyisakan peluang hujan pada sore hingga malam hari,” ujarnya dalam InfoBMKG, Jumat (22/5/2026).
BMKG mencatat sekitar 17,1 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Namun, kondisi atmosfer yang masih aktif menyebabkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi di berbagai daerah.
Selain cuaca panas akibat berkurangnya tutupan awan dan pemanasan permukaan yang intensif, suhu maksimum di atas 35 derajat Celsius sebelumnya juga terpantau di sejumlah wilayah seperti Sumatra Utara, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat.
Di sisi lain, hujan lebat hingga sangat lebat masih tercatat di beberapa daerah, di antaranya Jawa Barat mencapai 133,1 mm per hari, Sulawesi Selatan 112,8 mm per hari, Jawa Timur 105,2 mm per hari, serta Sumatra Utara 105 mm per hari.
Menurut Zen Putri, kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah fenomena atmosfer seperti Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, hingga gelombang Rossby ekuatorial yang masih aktif di berbagai wilayah Indonesia.
“Fenomena atmosfer masih aktif dan berkontribusi terhadap peningkatan potensi hujan di Indonesia,” jelasnya.
BMKG juga mencatat adanya sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Bengkulu, Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya, serta Samudra Pasifik utara Papua New Guinea yang mendukung pertumbuhan awan hujan.
“Kombinasi berbagai fenomena tersebut, termasuk tingginya kelembapan udara, pola belokan dan perlambatan angin, serta aktivitas konvektif, turut mendukung terbentuknya awan hujan di berbagai wilayah Indonesia,” katanya.
Untuk periode 22–24 Mei 2026, BMKG memprakirakan hujan lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang berpotensi terjadi di Kepulauan Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Maluku, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
Sementara itu, angin kencang diprediksi terjadi di Aceh bagian utara dan pesisir barat, Sumatra Utara bagian pesisir barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku bagian tenggara, Papua Barat, dan Papua Selatan.
Selanjutnya pada periode 25–28 Mei 2026, hujan lebat disertai petir dan angin kencang diperkirakan masih berpotensi terjadi di Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, dan Papua Pegunungan.
BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.
Masyarakat juga diminta terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini melalui kanal resmi BMKG.
“Informasi akan terus diperbarui secara berkala mengikuti perkembangan cuaca terbaru. Masyarakat diimbau tetap tenang namun siaga,” tutup Zen Putri.








