Nasional, Peloporkalimantan – Pemerintah Indonesia memperkuat kerja sama internasional untuk mempercepat hilirisasi riset kesehatan dan pengembangan obat melalui penyelenggaraan Indonesia–United Kingdom Research Translation Forum 2026.
Forum yang digelar oleh Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi bersama British Council tersebut mengangkat tema Building Equitable Indonesia–UK Pathways for Health Sector Innovation and Drug Development Translation.
Kegiatan ini bertujuan menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan industri kesehatan, sehingga inovasi tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi dapat memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, mengatakan kolaborasi riset internasional perlu diarahkan pada peningkatan kualitas serta dampak riset nasional.
“Sekarang kita berfokus pada challenge-based research program. Kita ingin riset bersifat multidisipliner dengan kerangka kolaborasi lintas institusi dan kemitraan internasional agar daya saing nasional semakin meningkat,” ujarnya, Jumat (6/3/2026).
Menurutnya, kemitraan dengan berbagai institusi di Inggris membuka peluang besar bagi penguatan kapasitas peneliti Indonesia, transfer teknologi, serta pengembangan model pendanaan riset kolaboratif.
Ia menambahkan, strategi tersebut dirancang untuk menjawab berbagai tantangan di sektor kesehatan nasional, mulai dari peningkatan kualitas layanan kesehatan hingga pengembangan inovasi berbasis riset yang dapat dimanfaatkan secara luas.
Upaya percepatan hilirisasi riset ini juga sejalan dengan agenda transformasi pendidikan tinggi dan sains nasional melalui kebijakan Diktisaintek Berdampak, yang mendorong perguruan tinggi dan lembaga riset lebih adaptif terhadap kebutuhan industri serta tantangan kesehatan masyarakat.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Lucia Rizka Andalucia, menilai Indonesia memiliki posisi strategis dalam ekosistem kolaborasi riset kesehatan global.
Menurutnya, Indonesia menghadapi tantangan kesehatan yang besar, namun juga memiliki potensi ilmiah yang kuat, termasuk populasi besar, kapasitas klinis yang luas, serta reformasi regulasi yang terus berkembang.
“Indonesia dan Inggris bukan sekadar kolaborator, tetapi mitra yang saling melengkapi dalam seluruh spektrum translasi riset,” jelasnya.
Sementara itu, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Reza Yuridian Purwoko, menilai kerja sama tersebut dapat memanfaatkan keunggulan masing-masing negara.
Ia menjelaskan Inggris memiliki sistem riset klinis yang matang serta jalur adopsi inovasi yang kuat. Di sisi lain, Indonesia memiliki keunggulan berupa populasi besar dan beragam, kebutuhan kesehatan yang tinggi, serta kekayaan biodiversitas yang berpotensi menjadi sumber pengembangan obat baru.
“Fokus utama kolaborasi berada pada fase TRL atau TKT 4 hingga 6, yang mencakup tahap validasi, uji coba, hingga peningkatan skala,” ujarnya.
Melalui sinergi antara Kemdiktisaintek, Kementerian Kesehatan, BRIN, serta mitra internasional, pemerintah berharap terbentuk jalur inovasi kesehatan yang lebih inklusif, berkeadilan, dan mampu memperkuat kedaulatan kesehatan Indonesia di tingkat global.








