Nasional, Peloporkalimantan – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi di berbagai wilayah Indonesia seiring masih aktifnya Monsun Asia dan angin baratan yang diprakirakan bertahan hingga awal Februari 2026.
BMKG mencatat hujan lebat hingga sangat lebat melanda sejumlah wilayah Indonesia pada periode 27–29 Januari 2026 akibat dinamika atmosfer global dan regional. Prakirawan BMKG, Adelia, menyebut curah hujan tertinggi terjadi di Jawa Barat mencapai 121,8 mm per hari, disusul Sumatra Barat sebesar 108 mm per hari. Sementara Aceh, sebagian besar Pulau Jawa, dan Bali mencatat curah hujan berkisar 55,6 hingga 88,6 mm per hari, sebagaimana dikutip dari keterangan BMKG melalui InfoPublik, Sabtu (31/1/2026).
BMKG menjelaskan, kondisi cuaca signifikan tersebut dipengaruhi oleh aktivitas Monsun Asia yang membawa massa udara dingin dari Benua Asia ke wilayah Indonesia. Fenomena ini diperkuat oleh cross equatorial northerly surge (CENS) di Selat Karimata, berupa seruak udara dingin yang melintasi ekuator dan meningkatkan pembentukan awan hujan.
Selain itu, bibit siklon tropis 98S yang melemah menjadi pusat tekanan rendah turut berkontribusi terhadap peningkatan awan konvektif di wilayah selatan Indonesia dalam sepekan terakhir. Kombinasi faktor tersebut menyebabkan proses pembentukan awan hujan berlangsung lebih intensif dan meluas, sehingga memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan longsor di sejumlah daerah.
Dalam sepekan ke depan, BMKG memprakirakan dinamika atmosfer masih signifikan. Pada skala global, ENSO berada pada fase netral, sementara La Niña lemah terindikasi dengan nilai SOI +8,6 dan indeks Nino 3.4 sebesar -0,79, yang mendukung peningkatan konvektivitas, khususnya di wilayah timur Indonesia.
Pada skala regional, Monsun Asia diprediksi masih persisten hingga dasarian pertama Februari 2026. Fenomena CENS juga masih berpotensi aktif, disertai kemungkinan terbentuknya daerah tekanan rendah di Teluk Carpentaria yang dapat memicu konvergensi angin di wilayah Indonesia bagian selatan. Aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin di sejumlah perairan juga turut meningkatkan peluang hujan.
BMKG memprakirakan pada periode 30 Januari hingga 1 Februari 2026, cuaca di Indonesia didominasi hujan ringan hingga sedang. Namun, potensi hujan sedang hingga lebat perlu diwaspadai di Aceh, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Bali, Banten, serta sebagian besar wilayah Papua. Peringatan siaga hujan lebat hingga sangat lebat juga ditetapkan untuk Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Timur, serta potensi angin kencang di Nusa Tenggara Timur dan Maluku.
Memasuki periode 2–5 Februari 2026, hujan ringan hingga sedang masih mendominasi, dengan potensi hujan lebat di sejumlah wilayah Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. BMKG kembali mengingatkan potensi angin kencang di Nusa Tenggara Timur dan Maluku.
BMKG mengimbau masyarakat dan pemangku kepentingan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat berubah sewaktu-waktu, serta melakukan langkah mitigasi risiko secara mandiri dan kolektif. Informasi cuaca terkini dapat dipantau melalui laman resmi BMKG, aplikasi Info BMKG, dan kanal media sosial resmi BMKG.









