Banjarbaru, Peloporkalimantan – Pemerintah Kota Banjarbaru menunjukkan kepeduliannya terhadap kesehatan masyarakat dengan melaksanakan skrining kesehatan menyeluruh bagi warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Banjarbaru, Rabu (08/04/2026).
Kegiatan yang digelar dalam rangka Hari Jadi ke-27 Kota Banjarbaru ini melibatkan tenaga kesehatan dari Dinas Kesehatan dan Puskesmas Cempaka, dengan fokus pemeriksaan pada tiga penyakit menular utama, yakni Tuberkulosis (TBC), Human Immunodeficiency Virus (HIV), dan Hepatitis.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, Juhai Triyanti Agustina, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam memberikan layanan kesehatan yang merata, termasuk bagi warga binaan pemasyarakatan.
Dari target 200 warga binaan, sebanyak 162 orang berhasil menjalani skrining kesehatan. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya beberapa temuan yang membutuhkan tindak lanjut medis.
“Terdapat 4 orang reaktif HIV, 1 orang reaktif Hepatitis C, dan 20 orang terduga TBC,” jelasnya.
Pemerintah Kota Banjarbaru telah menyiapkan langkah penanganan lanjutan secara komprehensif. Untuk kasus HIV, pemeriksaan lanjutan akan dilakukan dalam kurun waktu 2 hingga 4 pekan, sebelum pemberian terapi antiretroviral (ARV) jika hasil tetap reaktif.
Sementara itu, kasus Hepatitis C akan ditindaklanjuti melalui pemeriksaan Viral Load di RSUD Idaman Banjarbaru, sedangkan 20 orang terduga TBC akan menjalani pemeriksaan lanjutan menggunakan metode Tes Cepat Molekuler (TCM).
Pelaksanaan kegiatan ini juga mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Anggota Komisi IX DPR RI, Mariana, serta Anggota Komisi XIII DPR RI, Rafiqie, turut hadir meninjau langsung jalannya skrining kesehatan tersebut.
Melalui deteksi dini ini, Pemerintah Kota Banjarbaru berharap dapat mencegah penyebaran penyakit menular di lingkungan lembaga pemasyarakatan, sekaligus memastikan warga binaan mendapatkan akses pengobatan yang cepat, tepat, dan berkelanjutan.
Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa pelayanan kesehatan menjadi prioritas, tidak hanya bagi masyarakat umum, tetapi juga bagi kelompok rentan di lingkungan tertutup seperti lapas.








